TERLALU MANIS MENGGEMA, BAWASLU BADUNG AJAK KOMUNITAS MUSIK TURUT AWASI PEMILU
|
TERLALU MANIS MENGGEMA, BAWASLU BADUNG AJAK KOMUNITAS MUSIK TURUT AWASI PEMILU
"Emang apa hubungannya Bawaslu dengan kita-kita komunitas musik? Gak mau ah terlibat dalam politik. Ribet, cukup bermusik aja". Selentingan itu menyeruak sebelum Bawaslu Badung menggelar sosialisasi pengawasan partisipatif Pemilu, Rabu (6/4/2022). Sebagian peserta komunitas musik bergumam tampak bingung kenapa mereka diundang oleh Bawaslu Badung, walaupun mereka kompak hadir lengkap di tengah guyuran hujan. Tahun sebelumnya, sosialisasi telah melibatkan komunitas: kepemudaan, penyandang disabilitas, penggiat remaja, penggiat sosial dan kemanusiaan, penggiat lingkungan, serta kaum transgender.
Keraguan dan skeptisme tersebut perlahan terkikis begitu sosialisasi dimulai, bahkan sebaliknya menjadi kritis di penghujung kegiatan pada sesi tanya-jawab. Awalnya bias, berakhir antusias. Sosialisasi Pengawasan Partisipatif I di tahun 2022 ini, Bawaslu Badung mengundang dua komunitas musik, Brother Rock Community (BRC) dan Bali Music '21 (BM'21), yang anggotanya cukup banyak berasal dari Kabupaten Badung. Bertempat di Favehotel Kuta, keseluruhan hadir 50 orang peserta termasuk 10 orang dari komunitas Kristiyasa Creative yang berkecimpung dalam dunia content creator (pembuat konten untuk media sosial). Tema sosialisasi kali ini adalah "Membangun Pemilih Kritis Berbasis Komunitas untuk Awasi Pemilu Berintegritas".
Bawaslu Badung terus berupaya menumbuhkan gerakan moral dan sosial pengawasan partisipatif Pemilu berbasis masyarakat sipil di Kabupaten Badung. Bahwa Pemilu bukanlah eksklusif hanya menjadi tugas penyelenggara Pemilu atau panggung milik para peserta Pemilu saja, namun justru inklusif kepentingan rakyat selaku pemilik kedaulatan tertinggi dalam sistem demokrasi yang dianut Indonesia. Berbagai komunitas dirangkul guna meluruskan stigma tersebut. Partisipasi publik dalam Pemilu tidak semata datang ke TPS dan mencoblos pilihannya, namun lebih substansial lagi yaitu rakyat secara mandiri dan aktif mengawasi proses Pemilu dan mengawal pembangunan demokrasi itu sendiri.
Komunitas musik terundang kali ini sangat mengapresiasi sosialisasi yang dikemas cukup berbeda. "Komunitas kami sebelumnya tidak pernah dilirik. Terima kasih banyak Bawaslu Badung, kami merasa eksistensi kami jadi lebih bernilai dalam demokrasi", curahan hati salah satu peserta. Jauh dari kesan formal, panggung sosialisasi disulap menjadi milik komunitas. Bawaslu Badung memberikan kebebasan ruang kepada peserta untuk berekspresi dengan gaya mereka. Tidak heran, "Let it Be" lagu legendaris dari The Beatles langsung menggema di ruangan yang dibawakan secara akustik oleh salah satu anggota BRC. Saking spontannya, penyanyi mesti dipandu panitia karena tidak hafal lirik lagu. Yang penting yakin dulu kan?
Inti sosialisasi berupa FGD (Focus Discussion Group) atau diskusi kelompok terpumpun. Tiga dari lima orang Alumni SKPP (Sekolah Kader Pengawas Partisipatif) Bawaslu dari Kabupaten Badung yang hadir didaulat sebagai pemandu sesi, sekaligus berbagi kisah dan pengalaman mereka, serta memberi pemahaman tentang apa itu SKPP dan literasi umum pengawasan Pemilu yang diperoleh. Peserta disodorkan dengan empat topik untuk didiskusikan dalam lima kelompok. Peserta bebas berpendapat dan beropini, tanpa rasa khawatir. Secara individual, peserta diberikan kuesioner untuk dijawab dengan jujurly (apa adanya).
"Sangat penting bagi kami mengemas sosialisasi sesuai atmosfer, alam pikir, dan bahasa peserta. Kami terus berinovasi dan berkreasi untuk mampu menggelar sosialisasi yang menarik dan persuasif, tanpa meninggalkan substansi serta tetap dalam koridor. Kami berikan kesempatan jamming session untuk peserta dan kami beri peran alumni SKPP untuk mengelola FGD. Pola monolog dan formal kami kurangi, sehingga tidak tercipta jarak dengan peserta, terjalin kedekatan emosional dan personal, juga agar tidak membosankan. Pelibatan langsung peserta mengisi acara agar mereka merasa lebih memiliki peran, tidak hanya pasif menerima satu arah", jelas Kordiv Pengawasan Bawaslu Kabupaten Badung, selaku konseptor dan koordinator kegiatan.
Diakuinya, membuat peserta paham seutuhnya tentang seluk beluk pengawasan Pemilu dalam kompleksitas sistem demokrasi yang kita anut, tentu saja tidak akan cukup dengan waktu sosialisasi yang sangat terbatas. "Setidaknya, membangun sikap kritis dan menyadarkan peran serta hak sipil rakyat dalam pengawasan Pemilu adalah suatu keniscayaan dalam kehidupan berdemokrasi yang baik dan benar", tambahnya. Bawaslu menginisiasi SKPP untuk melahirkan dan kaderisasi pengawas partisipatif Pemilu di tengah masyarakat. Sosialisasi diharapkan mampu memantik tumbuhnya gerakan moral pengawasan partisipatif Pemilu di berbagai strata sosial tanpa diskriminasi, khususnya di gumi keris Badung.
Anggota Bawaslu Provinsi Bali selaku Kordiv Pengawasan dan Hubungan Antarlembaga, I Wayan Widyardana Putra, S.E., turut hadir untuk memotivasi serta membakar semangat peserta. Sedangkan Ketua, Anggota, dan Kepala Sekretariat Bawaslu Badung hadir lengkap dan bergiliran mengisi sesi pembuka dan tanya-jawab. Sosialisasi yang dimulai pukul 09.00 WITA ini tuntas pada pukul 12.30 WITA
"Terlalu manis, untuk dilupakan. Kenangan yang indah, di Bawaslu..." lirik lagu Terlalu Manis milik Slank menggema riuh menutup sosialisasi, yang di-cover akustik secara apik dan digubah tipis oleh salah satu anggota komunitas BM'21. Matur suksma atas animo komunitas sahabat Bawaslu Badung sami, sampai ketemu lagi. Rock never dies!