Suara Generasi Muda untuk Demokrasi, Bawaslu Badung Konsolidasi Bersama Siswa SMK PGRI 3 Badung
|
Badung, Bawaslu Badung - Peran generasi muda dalam mengawal kualitas demokrasi menjadi perhatian dalam Konsolidasi Demokrasi yang mempertemukan jajaran Bawaslu Kabupaten Badung dengan guru dan siswa SMK PGRI 3 Badung di sela-sela kegiatan rekaman Podcast Pandawa Bawaslu Badung. Kegiatan tersebut berlangsung di Kantor Bawaslu Kabupaten Badung, Senin (10/8/2026).
Anggota Bawaslu Kabupaten Badung, Rachmat Tamara, dalam kesempatan tersebut mengajak guru dan siswa untuk turut memberikan pandangan serta masukan terhadap pelaksanaan Pemilu. Menurutnya, keterlibatan generasi muda tidak hanya dibutuhkan saat memberikan suara, tetapi juga dalam mengawasi proses demokrasi secara aktif dan kritis. “Bagaimana kita melihat pelaksanaan Pemilu selama ini? Apa yang menjadi masukan dari generasi muda? Dan yang tidak kalah penting, bagaimana kita bersama-sama meningkatkan pengawasan partisipatif, khususnya di kalangan anak muda. Karena generasi muda bukan hanya sebagai pemilih, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga kualitas demokrasi,” ujar Rachmat.
Ia menambahkan, ruang diskusi bersama pelajar menjadi salah satu langkah untuk membangun kesadaran demokrasi sejak dini. Dengan pemahaman yang baik mengenai Pemilu, siswa diharapkan mampu menjadi pemilih yang kritis sekaligus berani menyampaikan apabila menemukan dugaan pelanggaran dalam proses demokrasi.
Hal senada disampaikan Guru Pendidikan Jasmani SMK PGRI 3 Badung, I Nyoman Nadiana, S.Pd. Ia menilai berbagai kegiatan yang dilakukan Bawaslu Badung, termasuk sosialisasi GEMPAR (Gerakan Masyarakat Pengawas Partisipatif) dan podcast, merupakan langkah positif untuk mendekatkan isu kepemiluan dengan generasi muda. “Menurut saya, apa yang dilakukan Bawaslu saat ini merupakan langkah yang sangat baik. Sosialisasi GEMPAR maupun podcast menjadi cara yang lebih dekat dengan anak-anak muda untuk meningkatkan pemahaman dan partisipasi mereka dalam Pemilu 2029. Kami sangat mengapresiasi langkah Bawaslu Badung yang terus memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan terlibat dalam demokrasi,” ungkap Nadiana.
Sementara itu, salah seorang siswa SMK PGRI 3 Badung, I Gusti Ngurah Oka Gyaneswara, mengaku menyadari bahwa isu politik terkadang kurang menarik bagi kalangan anak muda karena sering disampaikan dengan gaya yang terlalu formal. Selain itu, pemberitaan mengenai politik praktis yang kurang baik juga dapat membuat generasi muda enggan mengikuti perkembangan politik.“Memang isu politik terkadang kurang menarik bagi anak muda karena sering dibawakan dengan gaya yang formal, ditambah pemberitaan politik praktis yang kurang baik. Tetapi menurut saya, kita tetap perlu mengikuti berita tentang Pemilu dan demokrasi. Karena sebagai generasi muda, kita juga merupakan bagian dari penentu masa depan bangsa,” kata Oka.
Konsolidasi demokrasi tersebut menjadi ruang dialog antara penyelenggara pengawasan Pemilu dan generasi muda. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan semakin banyak pelajar yang memahami pentingnya demokrasi, tidak apatis terhadap politik, serta mampu mengambil peran dalam pengawasan partisipatif menuju Pemilu 2029.
msi