Lompat ke isi utama

Berita

Estafet Tak Boleh Putus, Generasi Muda Ditantang Buktikan Organisasi Bukan Sakadar Jabatan

Foto Ketua Bawaslu Badung bersama Pengurus FPMHD- Unud, (7/9/2026)

Foto Ketua Bawaslu Badung bersama Pengurus FPMHD- Unud, (7/9/2026)

Badung, Bawaslu Badung - Pergantian pengurus bukan akhir dari sebuah perjalanan. Justru di titik itulah tanggung jawab baru dimulai. Pesan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam penutupan Paruman Agung XXXI Forum Persaudaraan Mahasiswa Hindu Dharma Universitas Udayana (FPMHD-Unud), yang bertempat di Sekretariat Bawaslu Badung, Minggu (6/9).

Ketua Bawaslu Badung I Wayan Semara Cipta, yang hadir pada Paruman Agung XXXI FPMHD-Unud menegaskan keberlangsungan organisasi sangat bergantung pada kaderisasi yang dilakukan secara serius. Menurutnya, organisasi mahasiswa tidak boleh berhenti pada pergantian struktur dan jabatan, tetapi harus mampu menjadi ruang bagi generasi muda untuk menempa diri, membangun karakter, serta mengembangkan potensi.

“Kaderisasi sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan organisasi. Pengurus baru periode 2026/2027 harus menjalankan tugas dan kewajibannya dengan sebaik-baiknya. Jangan berpikir terlebih dahulu tentang apa yang akan didapat. Lakukan yang terbaik, karena ketika kita bekerja dengan tulus, hasil akan mengikuti sesuai dengan prinsip karma yoga,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan pengurus lama yang telah demisioner agar tidak meninggalkan organisasi begitu saja. Pergantian kepengurusan, kata dia, semestinya tidak memutus hubungan antara generasi lama dan generasi baru. Pengalaman para demisioner dan alumni justru diperlukan untuk menjaga arah perjalanan organisasi.

“Kepada pengurus yang telah demisioner, selamat atas pengabdian yang sudah diberikan. Jangan merasa karena sudah demisioner kemudian selesai semuanya. Tetaplah bersama-sama mengurus forum ini. Organisasi adalah tempat membangun potensi diri, terlebih ketika masih muda dan memiliki semangat untuk berorganisasi,” ujarnya.

Karena itu, kepengurusan baru diharapkan tidak berjalan sendiri. Koordinasi dengan pengurus sebelumnya, alumni, serta kader menjadi penting agar proses regenerasi tidak sekadar menghasilkan nama-nama baru dalam struktur, tetapi juga melahirkan pemimpin yang memiliki kapasitas dan pengalaman.

“Saya berharap pengurus yang baru tetap berkoordinasi dengan koordinator sebelumnya, para alumni dan kader-kader lainnya. Jadikan Paruman Agung ini sebagai momentum membangun soliditas, bukan hanya mengganti kepengurusan. Kembangkan potensi diri dan jadikan organisasi sebagai tempat belajar serta mengabdi,” katanya.

Lebih dari itu, Semara mendorong FPMHD-Unud membangun hubungan yang sehat dengan organisasi kemahasiswaan lainnya. Kolaborasi dinilai menjadi kunci agar gerakan mahasiswa tidak berjalan dalam sekat-sekat organisasi.

“Mari kita bergandengan tangan dan membangun hubungan baik dengan semua organisasi. Kita ingin menciptakan ekosistem organisasi yang baik. Apa yang kita bangun hari ini bukan hanya untuk kepentingan kita sekarang, tetapi juga menjadi bagian dari warisan yang akan dinikmati anak cucu kita nanti. Karena itu, keberlangsungan organisasi harus kita jaga bersama,” pungkasnya.

Penutupan Paruman Agung XXXI pun bukan sekadar penanda berakhirnya sebuah forum permusyawaratan. Lebih jauh, momentum tersebut menjadi awal bagi kepengurusan FPMHD-Unud periode 2026/2027 untuk membuktikan bahwa regenerasi bukan sekadar pergantian kursi, melainkan proses melahirkan kader yang mampu menjaga marwah dan masa depan organisasi.

AWN