Sebelum Masuk Bilik Pemilu, Siswa SMKN 2 Kuta Selatan Sudah Belajar Demokrasi Lewat E-Voting
|
Badung, Bawaslu Badung - Demokrasi tidak harus menunggu seseorang memiliki hak pilih dalam pemilu. Di sekolah, nilai-nilai demokrasi justru dapat ditanamkan melalui pengalaman langsung. Di SMK Negeri 2 Kuta Selatan, demokrasi justru sudah dipraktikkan sejak lingkungan sekolah melalui pemilihan OSIS dengan memanfaatkan teknologi electronic voting (e-voting).
Praktik demokrasi digital tersebut menjadi perhatian dalam konsolidasi demokrasi yang dilakukan Ketua Bawaslu Badung bersama guru Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG) SMK Negeri 2 Kuta Selatan yang berlangsung di SMK Negeri 2 Kuta Selatan, Rabu (26/8).
Dalam konsolidasi tersebut, dibahas pengalaman sekolah dalam menerapkan e-voting pada pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS. Sistem tersebut menjadi inovasi sekolah yang tidak hanya memanfaatkan perkembangan teknologi, tetapi juga menjadikan proses pemilihan OSIS sebagai ruang pembelajaran demokrasi bagi para siswa.
Ketua Bawaslu Badung, I Wayan Semara Cipta menyampaikan bahwa penerapan e-voting dalam pemilihan OSIS di SMK Negeri 2 Kuta Selatan merupakan yang pertama dilakukan di lingkungan sekolah, khususnya di wilayah Kabupaten Badung. Menurutnya, inovasi tersebut menjadi langkah positif dalam memperkenalkan praktik demokrasi kepada generasi muda dengan memanfaatkan teknologi yang dekat dengan kehidupan mereka.
“E-voting ini merupakan yang pertama dilakukan di lingkungan sekolah, khususnya sekolah-sekolah yang ada di wilayah Kabupaten Badung. Ini tentu menjadi sebuah inovasi yang sangat baik, karena anak-anak tidak hanya belajar demokrasi secara teori, tetapi langsung mempraktikkannya melalui teknologi,” ujarnya.
Menurut Semara, pemilihan OSIS dapat menjadi laboratorium demokrasi bagi siswa. Dari proses tersebut, siswa dapat belajar menggunakan hak pilih, menentukan pilihan secara mandiri, menghormati perbedaan pilihan, serta menerima hasil pemilihan secara demokratis.
Sementara itu, guru PPLG SMK Negeri 2 Kuta Selatan, Ida Bagus Pratama Surya S.Tr.Kom., yang membuat dan mengembangkan desain e-voting pemilihan OSIS, menjelaskan bahwa sistem tersebut dikembangkan untuk menghadirkan proses pemilihan yang lebih mudah, praktis, dan sesuai dengan perkembangan teknologi yang digunakan oleh siswa.
“Kami mencoba membuat sebuah sistem yang sederhana dan mudah digunakan oleh siswa, tetapi tetap mampu mengakomodasi kebutuhan dalam proses pemilihan OSIS. Harapannya, teknologi ini bukan hanya menjadi alat untuk memilih, tetapi juga menjadi media pembelajaran demokrasi bagi siswa,” ungkap Surya.
Menurutnya, pengembangan e-voting juga menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan kompetensi yang dipelajari siswa di bidang Pengembangan Perangkat Lunak dan Gim (PPLG) dengan kebutuhan nyata di lingkungan sekolah. “Ini juga menjadi kesempatan bagi kami untuk menunjukkan bahwa kemampuan di bidang teknologi dan pemrograman dapat memberikan manfaat secara langsung bagi sekolah. Siswa bisa melihat bahwa teknologi yang mereka pelajari dapat digunakan untuk menyelesaikan kebutuhan nyata, termasuk dalam proses pemilihan OSIS,” tambahnya.
Melalui e-voting, siswa mendapatkan pengalaman nyata bagaimana menggunakan hak suara, menentukan pilihan, serta menghormati hasil pemilihan. Proses tersebut menjadi pembelajaran penting bahwa demokrasi bukan sekadar teori yang dipelajari di ruang kelas, melainkan sesuatu yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Bawaslu Badung, pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa pendidikan demokrasi dapat dikembangkan dengan pendekatan yang sesuai dengan karakter generasi muda. Teknologi yang selama ini sangat dekat dengan kehidupan siswa dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan nilai-nilai demokrasi secara lebih konkret dan menarik. Lebih dari sekadar memilih Ketua dan Wakil Ketua OSIS, para siswa sedang belajar tentang partisipasi, kebebasan menentukan pilihan, kejujuran, tanggung jawab, dan menghargai perbedaan pilihan.
Dari proses sederhana di lingkungan sekolah inilah kesadaran demokrasi dapat dibangun. Ketika kelak mereka memasuki usia pemilih, pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal untuk menggunakan hak pilih secara cerdas dan bertanggung jawab.
Demokrasi tidak lahir begitu saja ketika seseorang masuk ke bilik suara. Demokrasi dibentuk dari kebiasaan dan sekolah adalah salah satu tempat terbaik untuk memulainya. SMK Negeri 2 Kuta Selatan telah menunjukkan bahwa teknologi dan demokrasi dapat berjalan beriringan. Dari e-voting pemilihan OSIS, generasi muda tidak hanya belajar memilih pemimpin, tetapi juga belajar menjadi bagian dari proses demokrasi.
AWN