Bukan Cuma Nyoblos! Anak Muda Diminta Berani Kawal Demokrasi Sejak Sekolah
|
Badung, Bawaslu Badung - Anak muda jangan hanya hadir ketika hari pencoblosan tiba. Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan media sosial, generasi muda justru memiliki peran penting untuk ikut menjaga demokrasi tetap sehat, kritis, jujur, dan berintegritas, bahkan sejak berada di lingkungan sekolah.
Pesan tersebut mengemuka dalam Konsolidasi Demokrasi yang digelar di Sekretariat Bawaslu Badung, Senin (24/8). Kegiatan ini menjadi ruang untuk memperkuat partisipasi masyarakat, khususnya kalangan pelajar dan generasi muda, dalam membangun kesadaran pengawasan partisipatif sejak dini. Kegiatan dihadiri Ketua dan Anggota Bawaslu Badung serta Kepala Sekretariat Bawaslu Badung, dan turut dihadiri Wakil Kepala Sekolah bersama perwakilan siswa SMAN 2 Abiansemal, Kabupaten Badung.
Ketua Bawaslu Badung, I Wayan Semara Cipta, menegaskan bahwa generasi muda tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pemilih dalam setiap momentum demokrasi. Menurutnya, anak muda perlu diberikan ruang untuk memahami sekaligus mengambil bagian dalam menjaga proses demokrasi.
“Generasi muda jangan hanya diposisikan sebagai pemilih. Mereka harus diberikan ruang untuk memahami, mengawal, dan ikut menjaga demokrasi sejak dari lingkungan sekolah,” tegas Semara.
Ia mengatakan, demokrasi tidak akan berjalan kuat apabila tanggung jawab menjaganya hanya dibebankan kepada lembaga penyelenggara maupun pengawas pemilu. Keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting untuk memastikan demokrasi tetap berjalan sesuai prinsip kejujuran, keadilan, dan integritas. “Demokrasi adalah tanggung jawab bersama. Ketika sekolah, siswa, dan masyarakat ikut mengambil bagian, pengawasan akan menjadi lebih kuat dan tidak hanya bergantung pada kerja-kerja kelembagaan,” imbuhnya.
Pandangan tersebut semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi yang membuat generasi muda berada di garis depan dalam arus komunikasi publik. Anggota Bawaslu Badung, Rachmat Tamara, mengatakan anak muda saat ini tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga memiliki kemampuan besar untuk menyebarkan informasi kepada orang lain. “Anak muda hari ini bukan hanya sebagai penerima informasi, tetapi juga menjadi penyebar informasi. Karena itu, kemampuan untuk memeriksa kebenaran informasi menjadi bagian dari tanggung jawab demokrasi,” ujarnya.
Menurut Rachmat, kemampuan memilah informasi menjadi salah satu bentuk sederhana pengawasan partisipatif. Tidak terburu-buru membagikan informasi, memeriksa sumber berita, dan memastikan kebenaran sebuah informasi merupakan sikap yang dapat dilakukan generasi muda dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Anggota Bawaslu Badung, I Putu Hery Indrawan, menilai sekolah memiliki posisi strategis dalam membentuk karakter demokratis generasi muda. Pendidikan demokrasi, kata dia, tidak cukup hanya disampaikan secara teoritis, tetapi perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari siswa. “Sekolah memiliki peran yang sangat strategis. Di sinilah karakter generasi muda dibentuk. Karena itu, nilai-nilai demokrasi harus hadir dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya dibicarakan ketika pemilu akan berlangsung,” ungkap Hery.
Menurutnya, siswa juga dapat menjadi bagian dari pengawasan partisipatif di lingkungan masing-masing. Sikap kritis, kepedulian terhadap persoalan di sekitar, keberanian menyampaikan pendapat, serta kemampuan memahami informasi merupakan bentuk nyata keterlibatan generasi muda dalam demokrasi. “Ketika siswa berani bersikap kritis, memahami informasi dengan baik, dan peduli terhadap proses demokrasi, mereka sebenarnya sudah mengambil bagian dalam pengawasan partisipatif,” jelasnya.
Kolaborasi antara sekolah dan lembaga pengawas pemilu tersebut mendapat respons positif dari Wakil Kepala Sekolah SMAN 2 Abiansemal, I Putu Gde Perdana Sugiartha, S.Pd.. Ia menilai edukasi demokrasi penting diberikan secara berkelanjutan agar siswa memiliki pemahaman yang utuh mengenai demokrasi dan pemilu. “Kami melihat kolaborasi ini sangat penting. Siswa perlu mendapatkan pemahaman yang benar mengenai demokrasi, pemilu, dan bagaimana mereka dapat berpartisipasi secara positif,” ujarnya.
Ia berharap siswa tidak hanya memahami pemilu sebatas datang ke tempat pemungutan suara dan memberikan pilihan, tetapi juga memahami bagaimana ikut menjaga proses demokrasi agar berlangsung secara jujur, adil, dan berintegritas.
“Harapannya, anak-anak tidak hanya tahu bahwa mereka nantinya akan memilih, tetapi juga memahami bagaimana menjaga proses demokrasi agar tetap jujur, adil, dan berintegritas,” katanya.
Semangat untuk terlibat dalam demokrasi juga disuarakan Gusti Ayu Suputri Darmayani, siswi SMAN 2 Abiansemal. Menurutnya, generasi muda memiliki peluang besar untuk berkontribusi karena memiliki akses luas terhadap teknologi dan informasi. “Generasi muda tidak cukup hanya mengetahui siapa yang akan dipilih. Kita juga harus memahami pentingnya memilih dengan bijak, mencari informasi yang benar, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terbukti kebenarannya,” ujarnya.
Ia menilai keterlibatan anak muda dalam demokrasi tidak harus menunggu momentum pemilu. Peran tersebut dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk sekolah dan media sosial. “Kita bisa mulai dari sekolah, dari cara kita menggunakan media sosial, dan dari keberanian untuk menyampaikan hal-hal yang memang perlu diperhatikan,” katanya.
Konsolidasi Demokrasi tersebut menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama antara Bawaslu Badung, sekolah, dan generasi muda dalam membangun pengawasan partisipatif. Generasi muda didorong untuk tidak hanya menjadi pemilih, tetapi juga menjadi bagian dari masyarakat yang ikut menjaga demokrasi dari berbagai potensi pelanggaran, mulai dari politik uang, penyebaran informasi palsu, intimidasi, hingga praktik lain yang dapat merusak integritas pemilu.
AWN